Aku mempunyai seorang yang berarti di dalam hidupku…Hidupnya sudah ia jalani seiring berjalannya waktu. Ya,,, seorang wanita, bunda. Dulu,,, mungkin benar kata orang, kalau aku selalu sering dimanja dan ditimang. Bunda… sosok itu yang mengandung dan melahirkanku. Dia yang bersusah payah, menahan derita luar biasa saat aku akan mulai mengukir napasku di dunia. aku memang bukan anak yang terakhir pada awalnya,,, tetapi kini, aku menjadi yang terakhir.
Bunda adalah sesosok wanita yang berwibawa, berpendirian teguh, tegas, serta lucu. Ia mempunyai warna suara yang sangattttttt indah.
Dari dulu sampai sekarang, dialah sosok yang paling aku segani.
Aku tahu, aneh memang. Karena aku adalah anaknya, mengapa aku sampai segan padanya. Aku pun juga merasa demikian. Mengapa aku selalu segan padanya. Entahlah,,, tapi ini yang sebenarnya…
Bunda selalu bisa merasakan apa yang sedang kulakukan saat ini..
Dan mungkin,,, hal inilah yang membuat aku segan padanya…
Terakhir,,, raga bundaku tak lagi sekokoh dulu… Ia mulai terjatuh, dan yang sangat membuatku luluh,,, mengapa aku tidak bisa ada di sampingnya saat itu. Bunda juga merahasiakan kerapuhannya dari anak-anaknya. Sampai-sampai,, aku mengetahui hal itu dari teman seperjuanganku dulu di SD.
Ternyata, dia tidak ingin aku memikirkan dirinya pada waktu aku ujian sekolah. Tetapi bunda, mengapa tidak engkau katakan saja???
Aku malah semakin terkejut ketika aku mengetahui hal itu dari temanku. Langsung semua menjadi masuk dalam pikiranku…
Segera aku menanyakan dirinya, dan dia malah masih lebih memikirkan diriku… Aku tak habis pikir… "Ragamu sedang lemah, Bunda…Mengapa engkau masih sempat memikirkan anak yang selalu membuatmu sedih ini??"
Pikiranku saat itu juga menjadi kacau… Selama ini,, aku selalu merasa, bunda jarang memperhatikan diriku. Dan lagi-lagi,, penyesalan datang terlambat.
Aku mulai merasakan,,, bahwa betapa besarnya cinta yang ia berikan padaku, sampai-sampai aku tidak pernah merasakan karena tembok pemisah yang aku ciptakan sendiri…
Sudahlah,,, aku pun mulai menenangkan diriku karena tidak ingin menambah beban di pikirannya..
keesokan harinya,,, aku mengikuti ujian praktek Sastra Indonesia yaitu,,, Monolog. Di pikiranku saat itu, hanya berupaya agar aku bisa maju dengan tenang, dan mendapatkan nilai terbaik untuk bunda yang telah mendoakanku. Sampai saat tiba giliranku,, aku LUPA! Aku menjadi gugup dan jantungku berdegup kencang sekali! kali pertama,,, aku gagal! dan tertawaan teman-temanku pun mulai mewarnai ruangan saat itu. Aku memohon, agar diberi kesempatan kedua, dan akhirnya diberikan kesempatan itu. Aku mulai berMonolog lagi untuk kedua kalinya. Dan ternyata, aku gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Kalian tahu mengapa? karena aku menjadi benar-benar lupa teks yang akan kubawakan… aku benar-benar menjadi terpuruk dan merasakan kegagalan yang luar biasa saat itu. Dan yang terjadi???
Air mata pun mulai membasahi mataku. (Cengeng ya? hehehe..)aku mulai merasa, aku gagal memberikan sedikit kesembuhan untuk bunda. Tetapi, guruku tetap memberikanku kesempatan yang terakhir. Bahkan, ia mencoba memberi aku waktu untuk menenangkan diri, dengan cara aku majunya belakangan.
Tetapi, entah mengapa, aku tetap bertahan pada keinginanku. Aku pun berkata," tidak bu. aku mau maju sekarang aja."
akhirnya,,, untuk yang ketiga kali,,, tidak tahu mengapa,,, aku mulai bisa dengan lancar, berMonolog, mengungkapkan isi monologku yang notabene berisi tentang kemarahanku terhadap teman-temanku yang hanya seperti angin lalu. Aku menjadi benar-benar seperti marah, aku menjadi benar-benar seperti merasakan keterpurukan karena dikhianati teman-temanku sendiri, aku menjadi benar-benar merasakan kebencian yang luar biasa, seperti sesuatu yang sudah lama kupendam di dalam hati, lalu pada akhirnya kuluapkan. Dan kalian tahu lagi,,, ternyata,,, teman-temanku pun mengakuinya. Mereka benar-benar tersihir akan Monolog yang aku bawakan. Mereka benar-benar mengaguminya. Sampai-sampai, ada temanku yang tidak pernah menyangka, bahwa aku bisa marah sampai seseram itu….
Ya,, mungkin karena semangat dari bunda yang membuat aku bisa menunjukkannya. Semangat dari teman-teman yang tetap mendukungku, walau aku terjatuh tadinya. Semangat dari orang-orang yang sudah mendoakanku.
Aku berbahagia,,, dan bunda pun merasakan kebahagiaan yang aku rasakan. Ia mulai berangsur-angsur sembuh walau raganya masih lemah.
Terima kasih, Bunda… Terima kasih atas semuanya… Semua perkataanmu,,, baik itu menyakitkan maupun menyejukkan,, kini aku tahu,,,bahwa itu merupakan suatu dorongan, suatu bentuk kasih sayangmu padaku.
Maafkan,,, aku pernah tidak percaya padamu…
Untuk kalian semua,,, Bundamu tidak akan pernah berhenti menyayangimu sampai kapanpun. Walaupun besok2,,, kamu mungkin pernah mengecewakannya,,, ingatlah,, bahwa bundamu pasti sudah memaafkanmu…
Jika bundamu menyatakan ketidakyakinannya terhadapmu,,,itu berarti dia takut, dia khawatir, kamu akan terjatuh di tengah-tengah.
Jika bundamu galak,,, itu berarti dia tidak ingin melihatmu berbuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.
Jika bundamu diam,,, itu berarti dia sedang membiarkanmu menjadi dewasa
jika mata bundamu berkaca-kaca,,, itu berarti ada kesedihan yang sedang ia rasakan, tetapi ia tidak ingin kamu mengetahuinya.
Jika bundamu memukulmu,,, itu berarti dia ingin kamu bertingkah laku yang benar.
Jika raga bunda meninggalkanmu untuk selama-lamanya,,, ingatlah,,, jiwanya tidak pernah meninggalkanmu untuk selama-lamanya, karena,,, cinta dan kasih sayangnya terhadapmu, tidak akan pernah berhenti menuntunmu menjalani hidup yang INDAH ini…