Archive for June, 2008

Cerita Tentang Ibunda…

Aku mempunyai seorang yang berarti di dalam hidupku…Hidupnya sudah ia jalani seiring berjalannya waktu. Ya,,, seorang wanita, bunda. Dulu,,, mungkin benar kata orang, kalau aku selalu sering dimanja dan ditimang. Bunda… sosok itu yang mengandung dan melahirkanku. Dia yang bersusah payah, menahan derita luar biasa saat aku akan mulai mengukir napasku di dunia. aku memang bukan anak yang terakhir pada awalnya,,, tetapi kini, aku menjadi yang terakhir.

Bunda adalah sesosok wanita yang berwibawa, berpendirian teguh, tegas, serta lucu. Ia mempunyai warna suara yang sangattttttt indah.

Dari dulu sampai sekarang, dialah sosok yang paling aku segani.

Aku tahu, aneh memang. Karena aku adalah anaknya, mengapa aku sampai segan padanya. Aku pun juga merasa demikian. Mengapa aku selalu segan padanya. Entahlah,,, tapi ini yang sebenarnya…

Bunda selalu bisa merasakan apa yang sedang kulakukan saat ini..

Dan mungkin,,, hal inilah yang membuat aku segan padanya…

Terakhir,,, raga bundaku tak lagi sekokoh dulu… Ia mulai terjatuh, dan yang sangat membuatku luluh,,, mengapa aku tidak bisa ada di sampingnya saat itu. Bunda juga merahasiakan kerapuhannya dari anak-anaknya. Sampai-sampai,, aku mengetahui hal itu dari teman seperjuanganku dulu di SD.

Ternyata, dia tidak ingin aku memikirkan dirinya pada waktu aku ujian sekolah. Tetapi bunda, mengapa tidak engkau katakan saja???

Aku malah semakin terkejut ketika aku mengetahui hal itu dari temanku. Langsung semua menjadi masuk dalam pikiranku…

Segera aku menanyakan dirinya, dan dia malah masih lebih memikirkan diriku… Aku tak habis pikir… "Ragamu sedang lemah, Bunda…Mengapa engkau masih sempat memikirkan anak yang selalu membuatmu sedih ini??"

Pikiranku saat itu juga menjadi kacau… Selama ini,, aku selalu merasa, bunda jarang memperhatikan diriku. Dan lagi-lagi,, penyesalan datang terlambat.

Aku mulai merasakan,,, bahwa betapa besarnya cinta yang ia berikan padaku, sampai-sampai aku tidak pernah merasakan karena tembok pemisah yang aku ciptakan sendiri…

Sudahlah,,, aku pun mulai menenangkan diriku karena tidak ingin menambah beban di pikirannya..

keesokan harinya,,, aku mengikuti ujian praktek Sastra Indonesia yaitu,,, Monolog. Di pikiranku saat itu, hanya berupaya agar aku bisa maju dengan tenang, dan mendapatkan nilai terbaik untuk bunda yang telah mendoakanku. Sampai saat tiba giliranku,, aku LUPA! Aku menjadi gugup dan jantungku berdegup kencang sekali! kali pertama,,, aku gagal! dan tertawaan teman-temanku pun mulai mewarnai ruangan saat itu. Aku memohon, agar diberi kesempatan kedua, dan akhirnya diberikan kesempatan itu. Aku mulai berMonolog lagi untuk kedua kalinya. Dan ternyata, aku gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Kalian tahu mengapa? karena aku menjadi benar-benar lupa teks yang akan kubawakan… aku benar-benar menjadi terpuruk dan merasakan kegagalan yang luar biasa saat itu. Dan yang terjadi???

Air mata pun mulai membasahi mataku. (Cengeng ya? hehehe..)aku mulai merasa, aku gagal memberikan sedikit kesembuhan untuk bunda. Tetapi, guruku tetap memberikanku kesempatan yang terakhir. Bahkan, ia mencoba memberi aku waktu untuk menenangkan diri, dengan cara aku majunya belakangan.
Tetapi, entah mengapa, aku tetap bertahan pada keinginanku. Aku pun berkata," tidak bu. aku mau maju sekarang aja."

akhirnya,,, untuk yang ketiga kali,,, tidak tahu mengapa,,, aku mulai bisa dengan lancar, berMonolog, mengungkapkan isi monologku yang notabene berisi tentang kemarahanku terhadap teman-temanku yang hanya seperti angin lalu.  Aku menjadi benar-benar seperti marah, aku menjadi benar-benar seperti merasakan keterpurukan karena dikhianati teman-temanku sendiri, aku menjadi benar-benar merasakan kebencian yang luar biasa, seperti sesuatu yang sudah lama kupendam di dalam hati, lalu pada akhirnya kuluapkan. Dan kalian tahu lagi,,, ternyata,,, teman-temanku pun mengakuinya. Mereka benar-benar tersihir akan Monolog yang aku bawakan. Mereka benar-benar mengaguminya. Sampai-sampai, ada temanku yang tidak pernah menyangka, bahwa aku bisa marah sampai seseram itu….

Ya,, mungkin karena semangat dari bunda yang membuat aku bisa menunjukkannya. Semangat dari teman-teman yang tetap mendukungku, walau aku terjatuh tadinya. Semangat dari orang-orang yang sudah mendoakanku.

Aku berbahagia,,, dan bunda pun merasakan kebahagiaan yang aku rasakan. Ia mulai berangsur-angsur sembuh walau raganya masih lemah.

Terima kasih, Bunda… Terima kasih atas semuanya… Semua perkataanmu,,, baik itu menyakitkan maupun menyejukkan,, kini aku tahu,,,bahwa itu merupakan suatu dorongan, suatu bentuk kasih sayangmu padaku.

Maafkan,,, aku pernah tidak percaya padamu…

Untuk kalian semua,,, Bundamu tidak akan pernah berhenti menyayangimu sampai kapanpun. Walaupun besok2,,, kamu mungkin pernah mengecewakannya,,, ingatlah,, bahwa bundamu pasti sudah memaafkanmu…

Jika bundamu menyatakan ketidakyakinannya terhadapmu,,,itu berarti dia takut, dia khawatir, kamu akan terjatuh di tengah-tengah.

Jika bundamu galak,,, itu berarti dia tidak ingin melihatmu berbuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.

Jika bundamu diam,,, itu berarti dia sedang membiarkanmu menjadi dewasa

jika mata bundamu berkaca-kaca,,, itu berarti ada kesedihan yang sedang ia rasakan, tetapi ia tidak ingin kamu mengetahuinya.

Jika bundamu memukulmu,,, itu berarti dia ingin kamu bertingkah laku yang benar.

Jika raga bunda meninggalkanmu untuk selama-lamanya,,, ingatlah,,, jiwanya tidak pernah meninggalkanmu untuk selama-lamanya, karena,,, cinta dan kasih sayangnya terhadapmu, tidak akan pernah berhenti menuntunmu menjalani hidup yang INDAH ini…

di Lorong Waktu

Terbangun…

melihat sosok diri

lemah,,

mata memerah,,

jantung berdetak keras…

Adakah?

Semua hari berlari begitu cepat

memburu,,, mengejar napas-napas ketakutan

ada hitam yang membuntuti

putih kalah sebelum datang…

Adakah?

kotor-kotor merayap,,, memasuki dimensi itu

mulai mewarnai dengan tangan yang semakin kerdil…

Takut!

Ngeri!

Tubuh ini ada dimana???

matahari tak kunjung beri jawaban…

dan disini,,,

senja datang menjemput……

Tentang sesosok Ayah…

Dari aku masih berupa seonggok tubuh kecil mungil sampai sekarang, Ayahku  adalah sesosok ayah yang sampai sekarang pun, aku masih ragu-ragu dalam menjelaskannya. aku mempunyai seorang ayah, yang berbadan kecil mungil, berperawakan sedang, serta mempunyai bentuk rambut yang khas.

Dulu, waktu aku kecil, aku mengaku dekatttttt sekali dengan beliau, sampai-sampai, kedua kakakku  bila ingin sesuatu, pasti meminta tolong pada aku, supaya aku menyampaikannya ke ayah.

Tetapi, seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, jarak pun semakin tercipta menjadi lebar antara aku dengan ayah aku…

Ya,,, mungkin karena tuntutan zaman yang semakin menggila, yang akhirnya juga menyita seluruh perhatian, serta kasih sayang dari ayah aku…

Sampa-sampai, aku pun mulai berpikir yang sama, yaitu, aku menjadi muak dengan keegoisan ayahku .

hal itu terus aku rasakan,, meski udah dicoba berkali-kali untuk memaafkan, tetapi tetap saja berat sekali rasanya..

Dan hal inilah yang terjadi…

Aku mulai menganggap semua yang dikatakan ayahku adalah angin lalu..

Aku mulai berhenti menggantungkan diri terhadap semua yang diucapkannya…

Aku mulai berhenti memaafkannya, dan aku mulai sering menyalahkannya…

jika anda tahu,,, pasti anda mungkin berpikir,,,’wa,,, jahat sekali kamu…’

ya,, memang,, aku pun berpikir demikian…

Sampai akhirnya,,, suatu hal terjadi, dan karena hal itu, aku mulai kembali, dan memutar ulang semua yang sudah pernah aku lakukan untuk dirinya.

dua kakakku sudah memberikan nasihat, teman-temanku pun juga demikian, tetapi, tetap saja, hati ini masih keras.

walaupun, setiap tetes air mata juga udah menjadi bukti suatu kerapuhan, tetap saja aku mempertahankan egoku.

Sampai,,,, sosok itu,,, dia membawa aku ke dalam pikiran yang jernih,,, mengajak aku, supaya mau berpikir dan merasakan seandainya aku menjadi ayahku…

Ternyata,,, banyak jurang-jurang yang harus dilewati oleh ayahku untuk bisa menghidupi keluarganya…

Perjalanannya sangat tidak mudah… Dan selama ini, aku pun hanya bisa menggerutu dan membencinya.

Aku mulai menyadarinya, dan seperti biasa, penyesalan pun datang terlambat…

Sampai sekarang, ayah pun masih berjuang di antara dunia yang semakin keras ini….

Dari situ, aku mulai belajar, untuk mau memaafkan ayahku, mau menerima sikap-sikap dingin ayahku, mau memaklumi setiap omongan-omongan kasar ayahku, mau membalas setiap kebaikan yang sudah ia berikan…

Aku tahu, sampai sekarang, ayah masih bersikap yang sama padaku…tapi, aku juga tahu, ayah seperti ini, karena dia tidak ingin aku mengetahui betapa beratnya beban yang dia tanggung untukku, karena aku mulai mengerti, dia hanya ingin melihat aku berhasil dan bahagia.

Mungkin tulisan ini tidak akan pernah ia baca, tapi, aku yakin, ia sudah mengetahuinya.

Maaf ayah, aku pernah menjadi jahat padamu…

Untuk kalian semua, terima ayahmu apa adanya…

jika ayahmu galak, dia ingin kamu sadar akan perbuatanmu..

jika ayahmu pelit, dia ingin kamu belajar mempertanggungjawabkan semua yang sudah kamu lakukan…

jika ayahmu tegas, dia ingin kamu menjadi sosok yang disiplin

jika ayahmu pemarah, dia ingin kamu menjadi yang terbaik

jika ayahmu sibuk, dia ingin kamu mandiri

jika ayahmu murah senyum, dia ingin kamu selalu siap menghadapi segala situasi

jika raga ayahmu meninggalkanmu untuk selama-lamanya,ingatlah, bahwa di dalam ragamu, jiwa ayahmu selalu ada bersamamu, untuk mengajakmu, mengajarimu, memberitahukanmu, bahwa menjalani hidup ini,,, adalah suatu hal yang LUAR BIASA!

Sebelumnya,,, sudah lama saya tak menulis di blog…

Karena saya kira,,, blog saya error…

wa… senangnya,,, sudah kembali…