January 6, 2009 at 7:05 am · Filed under Uncategorized
sedikit dari seorang anak, yang merasakan…
apabila anda ingin berkata, baik itu memberitahukan, memarahi, merayu, dsb,
pikirkanlah matang-matang,,,
apa yang ingin diucapkan,,
lihat si pendengar sedang ada di posisi apa…
karena terkadang,,,
anda tidak pernah menyadari,,
bahwa,,,
suatu saat,,
kata-kata suruhan anda,,
bisa amat menyakitkan hati..
melukai hati..
merobek hati yang sudah terluka…
jadi,,
jangan sampai anda melakukannya,,
apa lagi,,
terhadap orang yang dekat dengan anda..
December 30, 2008 at 3:35 am · Filed under Uncategorized

Aku rindu saat-saat itu…
tersenyum bahagia bersama…
menangis sedih bersama…
semuanya ada di dalam cerita itu
yang baru saja ku lihat siang tadi
di sela-sela ragaku yang sedang tak kuat untuk bertahan..
Saat mulai ku buka kembali
harapan itu muncul lagi
agar bersama kita lalui lagi..
ah..
ternyata,,
itu hanya mimpi..
December 28, 2008 at 7:06 pm · Filed under Uncategorized
Hari semakin larut ketika mulai ku angkat tanganku ke arah jendela tua itu. Ku tarik kain besar yang menutupinya. Aku baru menyadari, panorama di dalam rumah seakan mulai bicara jujur bila matahari telah kembali ke peraduannya. Bicara mengenai kejujuran, selama ini orang-orang di sekitar melihat keluargaku sebagai keluarga yang bahagia dan harmonis. Benar, keluargaku memang keluarga yang harmonis, yang patut diteladani, tetapi itu hanya pantas disandang, sebelum kegelapan mulai menyelimuti…
Aku baru akan pergi kuliah, saat aku melihat kedua sorot mata sayu dari Zra, kakakku. Dia duduk dalam diam, memandangi jendela yang sebenarnya dia tak pernah tahu. Jendela yang banyak menyimpan luka hatinya selama ini. Kudekati ia, yang semakin kurus dan seperti tak bernyawa.
“Kak, mau sampai kapan kakak duduk di sini?”
“Sampai aku bisa mengerti, apa yang akan terjadi di hari esok…”
Aku tidak sanggup membendung lagi air mata yang ternyata sudah mengumpul di mataku. Segera ku seka air mataku dan aku pun melangkah pergi.
Ku buka pintu kamar yang mulai macet itu. Ku pandangi dalam-dalam sekelilingnya. Ada sebuah meja rias yang sudah berwarna keabu-abuan dipenuhi debu. Selain itu, ada pula sebuah lemari kayu besar yang menampung kain-kain yang sudah lapuk. Mataku mulai berhenti dan tertuju pada sebuah ranjang yang diberi kain besar berwarna hitam. Ranjang itu mulai menarik aku kembali untuk singgah sebentar dan memahami betapa kecil arti hidup di masa itu…
“Aku pulangggg…,” seruku seraya masuk ke dalam rumah. Sepi. Sunyi. Rumah itu menjadi seakan tak berpenghuni. Segera saja ku cari Zra, yang ternyata masih diam dan duduk memandangi jendela.
“Aku mendengar langkah kakimu, Re.. Bahagia.. Bagaimana hari ini?”
“Aku tidak merasa bahagia dari hari ke hari, kak.. Aku sudah kehilangan kebahagiaan itu. Aku selalu melihat kakak seperti ini. Tidak pernah mau makan dari hari ke hari. Kalau kakak seperti ini terus, kakak bisa sakit! Apa sih yang sebenarnya membuat kakak menjadi berubah seperti ini?”
“Tidak ada yang pernah mengubahku, Re. Aku hanya ingin membebaskan jiwaku. Jiwaku yang sudah lama tertutup belenggu hitam.”
“Aku tidak mengerti…”
“Suatu saat, aku yakin, kamu akan mulai mengerti..”
Aku duduk. Ku usap perlahan-lahan air mata yang telah mengalir di pipiku. Bayangan-bayangan itu mulai berkelebat di hadapanku. Aku mulai tak tahan. Segera ku tinggalkan ruangan itu dan mulai menutup kembali pintunya, kemudian ku ambil lagi kayu yang memalangi pintu kamar itu.
Ku masuki kamarku yang kecil. Ruangan itu semakin hari semakin gelap rasanya. Ah, ya… Aku baru ingat, lampu kamar itu sudah mau mati. Ku letakkan tas ranselku dan segera aku menaiki ranjangku. Ku buka sebuah buku, tempat dimana aku biasa berada di dalam duniaku sendiri. Dunia yang penuh dengan kegelapan dan kesedihan.
Ingatanku pun mulai berputar kembali. Malam itu, saat langit enggan memunculkan teman-temannya, terjadilah peristiwa itu. Aku dalam diam dan sedang menorehkan kuasku ke dalam kanvas saat itu. Mama dan papa bertengkar untuk yang kesekian kalinya. Zra sedang menggesekkan biolanya menciptakan nada-nada suram nan menyayat. Pertengkaran mama dan papa ternyata membuat ia merasa berat untuk memainkan lagu-lagu bahagia. Mama, yang sudah berulangkali ku lihat bersimbah air mata dan darah di muka, seakan tak pernah berhenti untuk bertahan. Papa, yang sudah layaknya macan yang kelaparan, seakan menganggap sosok mama adalah daging segar.
Itu semua sudah biasa terjadi pada malam hari. Hanya saja, malam itu, seakan dunia mulai berotasi semakin kencang, keadaan berubah. Kesunyian yang terjadi. Aku menjadi heran. Yang terdengar hanyalah alunan nada dari kamar Zra. Hanya saja, Zra kali ini benar-benar memainkan lagu yang mengiris hati. Aku sampai hampir menangis mendengarnya. Tiba-tiba, perasaanku mulai mengatakan hal lain. Hal lain yang membuat hatiku mulai tidak tenang. Aku mulai curiga dengan semua yang terjadi di malam itu. Segera saja, kudekati pintu kamar mama dan papa, dan mulai kupasang telinga baik-baik untuk mendengar suara-suara yang ada di dalamnya.
Diam… Tak ada suara yang memenuhi kamar itu sepertinya. Aku pun mulai memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang ada di depanku.
Tok.. tok.. tok….. Tok.. tok.. tok….
Tak ada jawaban. Aku segera mencari alasan agar aku dapat masuk ke dalam kamar itu.
“Pa, Ma,,, aku masuk, ya… Mau ambil sisirrrr…”
Ku putar gagang pintu itu dan,,, “AAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHHHH!!!!!”
Kamar itu kosong, tak berpenghuni, dan meninggalkan kenangan pahit yang akhirnya juga ditutup dengan pahit. Kegelapan itu mungkin tak akan pernah berganti menjadi terang. Lampu di ruang tamu pun mulai meredup, seakan ikut merasakan hawa yang sudah ada di dalam rumah itu. Aku pun segera beranjak dan memutuskan untuk kembali meninggalkan rumah itu. Aku sudah ada di dalam mobil, ketika secara tiba-tiba hujan mulai turun dengan derasnya. Aku segera menyalakan mesin mobil dan sekali lagi, ku pandangi rumah tua itu untuk terakhir kalinya, dan akhirnya kutinggalkan rumah itu.
Polisi sudah memenuhi rumahku sejak sejam yang lalu. Aku hanya diam, mematung, dan memandang kosong. Semua yang ditanyakan polisi hanya ku jawab dengan sesadarnya aku. Polisi sudah tidak tahan akan kekakuanku yang seperti robot dan mengajakku ke kantor polisi. Aku menyetujuinya. Tetapi tiba-tiba aku teringat akan kakakku.
“Apabila anda mengajak saya ke kantor malam ini, siapa yang akan bersama dengan kakak saya?”
“Kakak anda sudah ditangani oleh kami tadi. Dia tadi ketakutan setengah mati begitu melihat kami membuka pintu kamarnya. Dia meraung-raung dan berteriak-teriak minta tolong, padahal kami tidak ada maksud apa-apa. Lalu kami segera memanggil dokter dan dokter sudah menenangkannya.”
“Anda sudah membuatnya ketakutan! Huh! Baiklah, kalau begitu. Saya ikut dengan anda.”
Segera saja polisi mengantarku ke kantor polisi. Aku segera di bawa ke suatu ruangan dan mulai diinterogasi.
“Nama?!”
“Redia.”
“Umur?!”
“Enam belas.”
“Tolong ceritakan aktivitas anda hari ini dari pagi hingga malam hari ini!”
“Baiklah. Saya pergi ke sekolah…”
“Dimana anda bersekolah?!”
“Di SMA Harapan Bangsa, tak jauh dari rumah. Hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit dengan berjalan kaki. Lalu saya pulang, melukis sampai sore…”
“Bagaimana keadaan di dalam rumah saat itu?!”
“Saya tidak pernah peduli akan keadaan rumah, pak. Yang saya tahu, saat itu, ada kakak saya di kamarnya sedang bermain biola. Lalu menurut saya, mama papa juga sudah ada di rumah, karena mobil-mobil di garasi sudah ada dan masih hangat karena habis digunakan oleh mereka.”
“Oke. Lanjutkan cerita!”
“Malam harinya saya masih melukis, sampai akhirnya saya terhenti karena merasa ada yang aneh. Mama dan papa tidak bertengkar hari ini. Saya juga sempat bertanya-tanya mengapa kakak saya memainkan lagu-lagu yang sangat menyentuh, dan lain dari hari sebelumnya.”
“Bagaimana anda bisa tahu kalau lagu yang dimainkan kakak anda itu sangat menyentuh?!”
“Dari nada-nadanya. Itulah yang dinamakan simfoni lagu, pak. Terkadang, saat anda merasa sedih, akan muncul dari sanubari hati terdalam anda, sebuah perasaan yang diselimuti dengan kegelapan, dimana anda tidak akan pernah mampu membendungnya walau anda sudah berusaha menghilangkannya dengan berbagai cara. Itulah yang dirasakan oleh kakak saya, pak. Dia menghilangkannya dengan cara menggesekkan biolanya, menciptakan nada-nada yang sungguh menyayat hati.”
“Apa yang membuatnya seperti itu?!”
“Kami menderita tekanan yang terdalam. Dia tertekan karena setiap hari, orang tua kami selalu bertengkar. Sedangkan saya? Saya semakin tidak peduli dengan apa yang terjadi!!”
“Baik. Lanjutkan!”
“Kemudian saya mulai mendekati pintu kamar mama dan papa, dan hendak menguping. Tetapi saya tidak mendengar apa-apa. Itulah sebabnya, saya mencari-cari alasan untuk masuk ke kamar mereka. Saat saya membuka pintu,,, saya sangat terkejut!! Ma.. ma.. dan.. pa.. pa.. sudah bersimbah darah. Sepenglihatan saya, sepertinya,,, mereka di.. dibunuh dengan beling dari jendela kamar mereka, karena saya melihat kaca jendela sudah pecah,” ceritaku sambil meteskan air mata.
“Kakak anda tahu apa yang sedang terjadi saat itu?!”
“Saya tidak tahu pasti. Seingat saya, kakak saya terus menerus memainkan biolanya saat itu.”
“Keterangan anda tidak cukup jelas. Kasus ini masih akan ditangani. Untuk sementara, anda kami tahan!”
“Baiklah. Lagipula, saya sudah lama ingin keluar dari rumah itu.”
Lalu, dibawalah aku ke suatu bui dan ditinggalkannya aku seorang diri. Aku mulai menangis, mengeluarkan setiap serpihan tajam yang menusuk hatiku. Aku telah berbuat kesalahan! Aku membiarkan kakakku tercekam sendirian di rumah sakit. Aku membiarkannya merasakan ketakutan!
“KAKAKKKKKKK!!!” teriakku.
“Memang saya yang membunuh mereka. Saya yang memecahkan kaca jendela di kamar itu. Karena pecahan kaca itulah, saya menjadi buta seperti sekarang ini. Saya membenci mereka. Saya muak mendengar dan melihat mereka selalu bertengkar! Saya tidak suka melihat mama menangis! Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menghentikan itu semuanya, dengan cara… membunuh… mereka.”
“Baiklah, sudah jelas jawaban dari kasus ini. Setelah berbagai bukti yang memberatkan saudari, dan juga atas pernyataan saudari sendiri, maka, dengan ini, hakim memutuskan saudari Gabriela Azra, yang telah melanggar hukum dikenai hukuman penjara selama sepuluh tahun!”
Dok! Dok! Dok!
Aku kembali tersadar. Segera aku menghampiri kakakku, yang ternyata masih duduk dalam diam, menghadap jendela yang tak pernah ia tahu warna kain yang menutupi jendela itu.
“Aku mengerti.. Kini aku mengerti.. Aku mengerti mengapa kakak menjadi seperti ini. Kakak ingin menghilangkan kegelapan jiwa kakak. Ya,, kegelapan jiwa yang telah membuat kakak berjiwa kosong. Maaf, kakak.. Maafkan aku telah meninggalkanmu dulu…”
Air mata mulai menetes kembali. Kali ini kubiarkan mataku basah. Tanganku sudah enggan menutupi air mataku. Lalu, ku sentuh tangan kakakku yang kurus itu. Dingin,, dan ia tetap tak bergerak. Kini, aku menangis, menahan pedih luar biasa, mencoba untuk membebaskan jiwa kegelapannya pergi, dan ku peluk erat raganya…
December 23, 2008 at 11:07 pm · Filed under Uncategorized
aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa untuk hal ini.
karena aku tahu, semuanya ada sisi benar dan sisi salah.
memang, tidak mudah untuk menjadi baik.
aku merasakan itu.
dan aku percaya, hampir semua manusia di dunia pasti juga pernah merasakannya.
tidak mudah terus bertahan di dalam kekosongan jiwa.
tidak mudah untuk tetap belajar mencintai orang tua kita.
tidak mudah untuk menerima kekalahan maupun kemenangan dari saudara-saudara kita.
tidak mudah untuk tetap tersenyum di tengah duka yang terus berganti.
tidak mudah untuk tetap bersedih di tengah bahagia yang datang.
semua terus berputar dan mewarnai lembaran kosong yang ada.
saat ini,
aku harus bahagia.
karena penderitaan yang udah Dia beri.
karena cinta kasih yang udah Dia beri.
karena kekosongan yang udah Dia beri.
karena semuanya.
Semuanya memang menjadi pilihan untukku.
untuk terus bertahan dalam kotakku,
atau meloncat keluar dan siap menghadapi hal-hal luar yang akan terjadi.
December 23, 2008 at 8:51 pm · Filed under Uncategorized
tidak ada.
lenyap.
hilang.
kandas.
tinggal mengurung saja di sudut kamar!
pasti itu lebih “menyenangkan”!
haha.
sakit dia.
meledak-ledak tapi di air.
haha.
gila.
semoga saja hari indah bisa bertahan.
December 20, 2008 at 9:47 pm · Filed under Uncategorized
aku tahu,,, dunia tak hanya sekadar kata-kata…
dunia tak sekadar jalan lurus
dunia tak sekadar tidur dalam buaian lembut tangan sang ibu
dunia adalah sebuah karangan indah yang terdiri dari berbagai paragraf, yang di dalamnya terdapat kalimat-kalimat yang bisa mendorong dan juga menarik kembali..
dunia adalah jalan berkelok-kelok, berbatu, banyak arah, dengan jurang di samping kanan dan kiri yang terus mengejar kita untuk terus berlari dari ujung ke ujung..
dunia adalah bangun dari tidur semalam yang hanya sementara, karena rembulan hanya sanggup bertahan di dalam kuasanya, dan matahari akan segera mengambil alih kembali..
menyadari semua itu, indah sekali hidup itu..
penuh gambar-gambar hitam putih yang harus kita warnai..
December 7, 2008 at 7:24 am · Filed under Uncategorized
maaf..
itu satu kata yang ingin banget aku ucapkan ke kamu.
aku tahu,
aku juga salah..
gak berani ngomong langsung.
hehehe..
taw sendirilah..
klo blh jujur, tulisan yang aku buat itu, gak ingin aku tunjukkan ke siapa2.
makanya, aku kaget bgt, pas tahu kamu liat, dan membacanya.
maaph ya..
sebenernya,,, aku uda tahu, klo saat2 ini banyak “tamu” yang hilir mudik menghampirimu..
dan jujur, aku ingin sekali, membantumu, menolongmu, saat kamu udah selesai bertamu,
agar kamu bisa merasa segar kembali, terus tersenyum kembali..
hanya saja,, ya,, itulah yang terjadi, dan yang kurasakan..(kamu dah taw kan)
maaph ya..
hidupku juga seperti itu yang terjadi..
akhir-akhir ini,, banyak batu-batu di tengah jalanku yang membuat aku selalu tersandung saat aku ingin berjalan, mencapai titik terang yang udah menunggu aku di ujung sana..
dari pelajaran..
kamu tahu sendirilah..
aku dah kayak orang gila waktu itu.
aku nangis. capek bgt rasanya.
bener2 gak mampu nyelesein rasanya..
tapi, untunglah, yang lagi kucari sekarang ini, tetap membantuku di sela sisi gelapku.
dari bokap..
ada masalah.
dan itu, membuat aku juga sedih dan pusink.
berat dan tidak main2 lagi..
dari nyokap..
raganya udah gak sekuat dulu..
dan kejadian yang dulu udah pernah terjadi, terjadi lagi tanggal 3 kemaren..
aku nangis lagi. dan lagi.
dari yang di atas sana..
kmu tahu sendiri, aku sedang mencarinya dan terus mencarinya dalam kekosongan yang aku rasakan..
jadi,,,
maaph ya,,,
klo aku juga jarang cerita2 sama kamu..
karena aku terlalu takut menambah bebanmu yang aku tahu, juga berat..
oleh karena itu, aku selalu memutuskan untuk menanggungnya sendiri..
maapin aku, ya..
maaph..
November 21, 2008 at 11:34 pm · Filed under Uncategorized
sepi,
sunyi,
senyap,
manusia manusia pergi
dengan raganya
dengan jiwanya
mencari
menemukan
yang sembunyi
uhh..
November 2, 2008 at 12:20 am · Filed under Uncategorized
hmm. itu yang lagi memenuhi pikiranku saat ini. sebenarnya bukan pikiran, tapi lebih tepatnya perasaan.
Hari Sabtu. dimana biasanya hari itu dinanti-nantikan oleh para pasangan, baik suami istri, cewe cowo, ato mungkin anak-anak juga.
Hari itu aku juga merasa demikian. Tapi, entah kenapa, gak bisa tergambarkan dengan jelas. buram.
Ada satu hal yang mengganjal. mendadak aku dipenuhi oleh pikiran-pikiran tentang pergi tak kembali. Bukan aku yang akan mengalami itu, tapi dua orang pahlawan hidupku yang amat kubanggakan walau aku tak pernah taw seberapa besar aku menyayangi mereka.
pikiran-pikiran itu menghantuiku terus sepanjang hari sabtu ini.
kata-kata itu, yang selalu teringat.
“waktunya uda hampir tiba. sebentar lagi. sudah saatnya kamu membuka pikiranmu.memberikan senyum tulusmu untuk mereka. Jadi, jika saat itu tiba, kamu tidak akan tenggelam oleh air mata dan penyesalan yang kamu buat sendiri.”
hmm. dan secara kebetulan juga, aku pergi bersama mereka. bersenang-senang.bergembira. dan juga berserah diri pada sang Pencipta.
Kebetulan lagi, sabda-sabda-Nya hari Sabtu dan Minggu ini tentang pergi tak kembali alias Kematian.
kebetulan lagi, mereka pergi ke suatu kota keesokan harinya, yaitu hari ini. mereka akan menggunakan benda terbang itu.
pikiranku makin berputar dan berputar.
seperti suatu pertanda.
hmmm.
October 11, 2008 at 8:57 pm · Filed under Uncategorized
Bila ada satu titik di dalam seribu kalimat
tiada akhir yang berarti
yang mengawali
yang mengakhiri.
Semuanya menjadi satu ikatan dalam satu jarak
menari-nari, berlarian, ditemani sorak-sorai gembira..
Matahari yang mulai bosan tersenyum
bosan menyinari
bosan menemani
pergi sembunyi dalam kedamaian bulan..
sosok itu,
terlihat begitu dekat,
dengan tangan mungilnya,
dengan wajah polosnya,
tetap munculkan senyum di bibirnya..
dan
air mata menetes di pipinya..
Next entries »